ASN

Curhat ASN Single: Cari Jodoh Sesama Pelayan Publik, Untung atau Buntung?

Banyak ASN muda diam-diam bertanya, apakah mencari pasangan sesama ASN merupakan pilihan yang tepat? Di Ruang Abang kali ini, awak diajak ngobrol santai tentang jodoh, karier, dan kehidupan ASN dari sudut pandang yang lebih manusiawi.
ASN muda sedang tersenyum melihat handphone di kantin kantor sambil menikmati waktu istirahat siang

Geser dulu gelas es teh awak ni, Dek. Takut tersenggol nanti tumpah ke meja.

Jam makan siang hampir habis. Kantin kantor pun mulai lengang. Tinggal beberapa kawan ASN yang masih santai duduk sambil menghabiskan kopi dan sesekali memeriksa notifikasi di handphone.

Tadi awak perhatikan dari jauh, mata kau beberapa kali melirik ke arah meja sebelah. Pas awak usik sedikit, muka langsung merah semacam lampu rem. Hahaha…

Tak usah malu, Dek.

Di usia macam kau sekarang, selain memikirkan target kinerja, pelatihan, atau masa depan karier, biasanya ada satu perkara yang mulai sering datang mengetuk pikiran.

Soal jodoh.

Dan percayalah, kau bukan orang pertama yang memikirkan hal itu.

Banyak ASN muda yang diam-diam pernah bertanya perkara yang sama.

“Bang, kalau sama-sama ASN, bagus tak?”

Atau yang lebih spesifik lagi.

“Kalau nikah sama orang satu kantor, nanti ada masalah tak?”

Kalau itu yang sedang bermain-main dalam kepala kau, mari kita ngobrol sebentar. Anggap saja macam dua kawan kantor yang sedang duduk santai di kantin selepas makan siang.

Kadang Jodoh Memang Datang dari Meja Sebelah

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya tak aneh.

Sebagian besar waktu kita habiskan di tempat kerja.

Datang pagi bersama.

Ikut rapat bersama.

Lembur bersama.

Kadang turun lapangan pun bersama.

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan.

Dari yang awalnya cuma kenal nama, lama-lama jadi kenal kebiasaan.

Tahu dia sukanya kopi apa.

Tahu dia selalu datang paling awal.

Tahu dia orang yang bisa diandalkan ketika pekerjaan sedang menumpuk.

Lalu tanpa sadar, rasa nyaman itu mulai tumbuh perlahan.

Begitulah biasanya cerita bermula.

Makanya tidak sedikit pasangan ASN yang awalnya hanyalah rekan kerja biasa.

Bahkan mungkin dulu duduknya cuma beda beberapa meja saja.

“Bang, Memang Boleh Nikah Sama Teman Satu Kantor?”

Nah, ini yang sering membuat kawan-kawan ASN muda ragu.

Masih ada cerita lama yang beredar seolah-olah kalau sesama ASN menikah, salah seorang harus keluar kerja atau mengundurkan diri.

Padahal tidak begitu.

Saat ini tidak ada aturan yang melarang ASN menikah dengan sesama ASN, termasuk apabila bekerja dalam instansi yang sama. Cerita soal harus resign atau kehilangan pekerjaan setelah menikah itu lebih banyak berasal dari mitos lama yang terus beredar dari mulut ke mulut.

Jadi kalau perkara yang membuat kau ragu hanyalah soal aturan, awak rasa kau boleh sedikit lebih tenang.

Kadang yang membuat kita takut bukan kenyataannya.

Tapi cerita yang terus diulang-ulang tanpa pernah diperiksa kebenarannya.

Yang Menarik Bukan Soal Gajinya

Kalau orang luar melihat pasangan ASN, biasanya yang pertama mereka pikirkan adalah soal stabilitas ekonomi.

Dua orang sama-sama bekerja.

Dua orang punya penghasilan tetap.

Masa depan kelihatan lebih terukur.

Itu memang benar.

Tapi menurut awak, keuntungan terbesar bukan di situ.

Keuntungan terbesar justru kerana kalian sama-sama memahami dunia masing-masing.

Pas ada rapat mendadak.

Pas harus lembur menyelesaikan laporan.

Pas hari libur tiba-tiba ada kegiatan kantor.

Pas pulang dengan wajah kusut selepas menghadapi pekerjaan seharian.

Tak perlu banyak menjelaskan.

Dia mengerti.

Kerana dia juga pernah berada di situasi yang sama.

Ada rasa saling memahami yang kadang sulit didapatkan ketika pasangan berasal dari dunia kerja yang sangat berbeda.

Tapi Tetap Ada Cabarannya

Namanya hidup tentu tak semuanya manis macam teh tarik.

Ada juga cabaran yang perlu disiapkan sejak awal.

Salah satunya adalah menjaga profesionalitas.

Ketika berada di rumah, kalian boleh menjadi pasangan yang saling bercerita dan saling mendukung.

Tapi ketika melangkah masuk ke kantor, yang dilihat orang adalah rekan kerja.

Bukan pasangan suami istri.

Kadang ada juga penyesuaian posisi kerja untuk menjaga objektivitas organisasi.

Bukan kerana menikah itu salah.

Bukan pula kerana ada yang dihukum.

Tapi kerana organisasi perlu memastikan semua proses berjalan profesional dan adil.

Yang penting sebenarnya bukan di mana kalian ditempatkan.

Yang penting adalah bagaimana kalian tetap menjaga sikap sebagai pegawai yang profesional.

Sebelum Melihat Status ASN, Lihat Orangnya

Kalau awak boleh berpesan sedikit, jangan terlalu fokus melihat status pekerjaannya.

Lihat orangnya.

Lihat cara dia memperlakukan orang lain.

Lihat bagaimana dia bekerja ketika tidak ada yang melihat.

Lihat bagaimana dia menghormati orang tua dan menghargai kawan-kawan di sekelilingnya.

Kerana yang akan menemani hidup kau nanti bukan NIP-nya.

Bukan golongannya.

Bukan pula besaran tunjangannya.

Tapi pribadinya.

Kalau dia membuat kau lebih tenang, lebih semangat menjalani hari, dan memiliki nilai hidup yang sejalan, mungkin itu lebih penting daripada sekadar status pekerjaannya.

Kadang Jodoh Datang Saat Kita Sedang Sibuk Bekerja

Awak pernah perhatikan satu perkara.

Banyak orang yang terlalu sibuk mencari jodoh sampai lupa memperbaiki dirinya sendiri.

Padahal kadang jodoh datang ketika kita sedang fokus menjadi pribadi yang lebih baik.

Sedang belajar.

Sedang bekerja dengan sungguh-sungguh.

Sedang bertumbuh.

Kalau akhir-akhir ini kau juga sedang berada di fase mencari arah dan mulai memikirkan masa depan, mungkin kau akan suka membaca cerita lain di Ruang Abang tentang “Curhat ASN Baru: Bingung Mulai dari Mana?” atau “Teman Kantor yang Supportif Itu Rezeki”.

Kerana kadang hidup di kantor bukan cuma soal pekerjaan.

Tapi juga soal orang-orang yang hadir dalam perjalanan kita.

☕ Penutup

Sudah, Dek.

Bel masuk kantor sebentar lagi berbunyi.

Mari habiskan dulu es tehnya.

Kerjaan masih menunggu.

Dan soal jodoh, tak perlu terlalu dipaksa ataupun terlalu dikejar.

Kalau memang dia orang yang baik, sevisi, dan membuat hidup kau terasa lebih tenang, tak ada salahnya membuka ruang untuk mengenalnya lebih dekat.

Pelan-pelan saja.

Tak perlu tergesa.

Kerana perkara yang baik biasanya memang memerlukan waktu.

Dan siapa tahu, orang yang selama ini sering kau lirik dari meja sebelah itu sedang menyimpan cerita yang sama.

Sambil menunggu waktu menjawab semuanya, teruslah menjadi pribadi yang baik.

Kerja yang baik.

Hidup yang baik.

Dan jangan lupa sesekali menikmati secangkir kopi di sela kesibukan.

Kerana ASN juga manusia.

Kadang butuh target kinerja.

Kadang butuh waktu istirahat.

Dan kadang… butuh seseorang untuk diajak pulang ke rumah.

A

AbangASN

Teman ngopi ASN untuk memahami informasi regulasi, kompetensi, teknologi, dan dinamika kerja pemerintahan dengan bahasa yang lebih ringan.

Atikel Terkait
Diskusi Bersama AbangASN

Ada pertanyaan, pengalaman, atau sudut pandang lain tentang topik ini? Yuk lanjutkan obrolannya di kanal AbangASN agar lebih hidup dan saling berbagi.